Langsung ke konten utama

Lelaki tangguh ku,..

wajah tua itu menatap langit langit kotor dari beranda rumahnya yang kusam... kerutan dahinya sungguh menyiratkan betapa lelah hidupnya,.. tangannya yang hitam dan kering dan banyak bekas luka menampakkan ia lelaki yang kuat walau kini sudah renta... tubuhnya sudah tidak kokoh tapi nampak jelas ia lelaki yang tangguh,.. rambutnya yang sudah memutih menjadi saksi hidupnya yang telah letih,.. matanya layu penuh dengan tatapan yang berharap hidupnya buktikan sesuatu...

aku bisa membayangkan betapa sabar lelaki itu dengan kesederhaan yang ia punya ia adalah sesuatu yang mahal kurasa... hidup dengan seorang istri dengan sembilan orang anak,.. hmmm... teramat banyak untuk ukuran zaman sekarang,.. tak pernah kulihat ditengah kesibukannya mencari nafkah ia berkeluh kesah,.. semua ia hadapi dengan senyuman walau apa adanya,.. selalu ditengah malam ketika aku terbangun kumelihatnya bersimpuh menghadap sang KHALIK, dengan khusyuk ia panjatkan do'a dengan bibirnya yang gemetar,.. tubuhnya rapuh saat itu,.. jelas ia menangis hanya pada-NYA,..

dan aku...??? merasakan ketulusannya saat itu,.. bahkan ketika lelap ia tertidur walau hanya diatas selembar alas,.. dapat kurasakan rasa syukur yang penuh,.. tanpa mengeluh walau tubuh rentanya pasti merasakan kedinginan yang sangat... hhhhh... tak kuasa sebenarnya aku melihat rutinitas pemandangan seperti ini,.. lagi lagi aku hanya bisa berdo'a untuknya,.. "Yaa Rabb... jaga dia apapun kondisinya,.. dia lelaki tangguh yang aku punya,.." 

berharap suatu saat aku bisa membahagiakannya,.. memanjakannya dengan fasilitas yang belum ia nikmati sebelumnya,.. Yaa Rabb,.. limpahkan kesehatan lahir bathin untuknya,.. beri kemudahan untuk semua hal yang ia rasakan, jangan jauhkan ia dari rizqi-Mu yang halal,.. karena ia lelaki tangguh untukku,..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LENTERA

Entah sudah berapa senja menemani pertemuan kita, dengan siluetnya yang terkadang manis dan miris. Sudah berapa kali gerimis memayungi kebersamaan kita, bahkan dalam ruang itu kita kerap merapal kata-kata yang mengusir kejenuhan... Pertemuan memang sebuah rahasia, begitu pun perpisahan... 
Kita bertemu lalu dipisahkan, itu adalah hal yang sudah ditawarkan hidup. Namun bukan berarti kita harus membenci keadaan. Bagaimanapun kita akan selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan yang berbeda. Hari ini begini,esok begitu, lusa dan yang akan datang pun tidak sama. Tidak menjadi haram ketika soal hati harus terhenti, namun tidak juga halal ketika kita tahu perbedaan itu tidak bisa disatukan, namun kita menuntut demikian.
Rumitnya isi kepala sekarang seperti tengah berada dalam belukar yang dipenuhi alang-alang yang tinggi. mengajak jemari untuk beberapakali menggaruk yang sudah terkeruk. Ini apa??? Reaksi dari jawaban yang di inginkan pun menjadi suram. 
Tiba-tiba pengap, sesak...
Dan tengg…

Perkara Manusia...

Perkara Manusia...  Merasa BENAR adalah salah, tapi cobalah merasa SALAH agar tahu caranya untuk BENAR...
Nasehat itu tidak melulu dengan sebuah ayat atau hadist, tapi sikap dan sifat yang jadi kebiasaan juga dapat jadi NASEHAT bagi yang berpikir... Simplenya NGACA dulu sebelum kasih statement orang lain itu begini dan begitu, kurang ini kurang itu... 
Apalagi statement ditujukan kepada orang terdekat. Sadar diri itu penting, benahin diri sendiri lebih penting! Jangan khilaf, orang terdekat adalah yang tahu segalanya tentang kita. Nggak lucu tetiba kamu mau pasanganmu berubah, sedangkan kamunya masih SALAH! 
Baru separuh perjalanan lho.. Masih panjang dan rumit perjuangannya, jangan kufur nikmat yang efeknya bisa buat HATI nggak SEHAT! Hargai diri sendiri dulu, kalau belum bisa hargai orang lain. Nggak perlu umbar kita yang paling SABAR, karena tabir kehidupan tetap butuh keselarasan! .
Jauhkan kami dari kebiadaban, ketika dekat.. RAJAM!
#gituaja

LENTERA #2

11.30 Wib Waktu yang kamu tentukan hari ini untuk kita bertemu, harus selesai sekarang! Pintamu lewat whatsapp, dan akupun memberikan emoticon tanda setuju.
Gaduh dan rusuh perasaanku kini, sengaja kusibukkan diri dengan beberapa kegiatan. Hanya untuk coba melenyapkan perasaan yang entah disebut apa. Mengingatmu adalah cahaya, mengingatmu adalah rindu, mengingatmu adalah candu. Hhhhh.. haruskah berakhir sekarang? Fiuhh.. 
Jarum jam diangka 11.18 Wib 12 menit lagi wajahmu akan menari bebas dihatiku, bahkan mungkin liar mencakar-cakar direlung yang terdalam. Hukuman apa ini Tuhan? Lirih ku mengeluh. Detak jarum jam saat ini tak ingin kudengar, semakin gila rasanya harus menemuimu dan akhirnya meninggalkanmu. Hhhh.. lagi-lagi menghela nafas.

Ternyata kamu terlambat, cukup lama aku menunggu di depan minimart. Kesabaranku semakin diuji rasanya. Cuaca panas menambah kegelisahan yang tak sedetikpun mau hilang. Tapi aku menunggu, akan terus menunggu sampai akhirnya kita sepakat meninggalkan …