:: Jelita... ::



"Langit sore terlihat murung,. Dengan kicau burung yang enggan akan mendung, lekuk awan mulai mematung…  tak jelas dan malas.. ikuti arah angin yang terbiasa jadi khalifah dicakrawala…”

Sebut saja saya hanya seorang pecinta senja, .. “Nothing Special About Me”  itu sudah menjadi motto hidup dalam hitungan tahun  pada setiap jejak yang saya pijak diBumi Nusantara ini. Kebanggaan yang saya punya adalah memiliki sebuah keluarga yang penuh canda tawa walau hidup sederhana dan apa adanya. 

Life is Choice… sebagian besar manusia dialam ini pasti sudah akrab dengan kalimat itu, bahkan tak sedikit yang menjadikan alasan dalam setiap cerita hidup mereka.

Ya!!! Hidup adalah pilihan, pilihan untuk menjadi yang terbaik dengan tujuan untuk sebuah KEBAHAGIAAN !!! namun terkadang bahagia itu adalah perjuangan. Dan tak banyak yang menyadari bahwa perjuangan itu yang sulit dan berbaur pada rasa sakit..!!!

Th. 2010
Jelita (nama samaran) itu seolah hilang dari peredaran ditengah keluarga yang kini masih merindukan senyum dan tawanya, Jelita.. yang terbiasa bersenandung dalam setiap tingkahnya, Jelita yang kerap hadirkan cerita dalam sikap manjanya… Jelita yang seolah lupa bahwa memiliki keluarga yang berjuang untuk kebahagiannya. Yaa Rabb.. sampai jemariku menari pada tuts-tuts ajaib ini, wajah manisnya hadir  dipelupuk mata. Senyumnya yang polos dan kerut amarahnya masih apik hiasi bayang yang terselip dalam khayal.

Jelita adik bungsu yang  paling kami manja, pergi dengan pilihan hidupnya, dengan segudang kisahnya dengan selaut pengorbanannya,.. hhhhh… harap dan do’a masih teruntai dari setiap sujud Sang Dewi (ibu) ditengah kerinduannya. Andai saja keluarga kami keluarga berada mungkin dia takkan hilang raib ditelan dunianya. Sungguh hal yang membuat saya sampai detik ini tak pernah lupa tentang semua hal yang terjadi padanya.

Tepat 30 Juni 2010 Jelita kami pergi,.. pilihannya untuk hidup dengan seseorang yang sampai detik ini tidak kami kenal adalah mistery yang belum kami temukan. Jangankan sebuah titik, koma saja seolah raib dalam pencarian kami. Bahagia itu adalah bisa membeli apa saja !!! itu rangkuman dari kata-kata singkatnya via telepon, dengan nada angkuh dan tak sedikitpun terenyuh oleh suara Sang Dewi yang merindunya.. tak sedikitpun terenyuh oleh penderitaan seorang lelaki tangguh (Ayah) yang menjadi diam nyaris tanpa kata saat itu.
“Ketika hijau … menjadikan warna daun utuh, ada gurat kemesraan dari ranting dan akar… bahkan buahnya turut bersuka cita. Tapi daya pikatnya sirna karena musim yang mengulur jauh dari Syukur!!!”
Fantastis!!! Mungkin kata yang tidak muluk, untuk seorang anak yang sudah 17tahun hadir ditengah keluarga yang sederhana, dengan kenangan-kenangan yang tidak murah harganya, kebersamaan yang selalu suguhkan canda dan tawa itu seolah lenyap dari memory ingatannya. Dia menutup mata dari rasa sayang keluarganya, menutup telinga dari setiap kata nasehat dari mereka yang peduli padanya, menutup mata hatinya dari semua yang mencintainya.. 

"betulkah bahagia itu adalah bisa membeli apa saja???" Hehhh… terlalu naïf jika dia meninggalkan sebuah keutuhan kebersamaan dengan keluarganya demi untuk membeli apa saja…
“Yaa Rabb… hikmah dari-Mu adalah kebersamaan keluarga besarku yang menopang dikala hati Sang Dewi dan lelaki Tangguh itu runtuh…”
Ramadhan pertama tanpa hadirnya Jelita, sungguh fenomena yang ciptakan haru luar biasa, bahagia kami dalam syair-syair takbir seolah surut ketika pada kenyataan yang kami harapkan tak jua datang. Jelita belum pulang dengan senyumnya yang menawan. Keputusasaan dan harapan kosong karyakan sebuah lukisan abstrak tapi bernilai mahal. Kelopak mata Sang Dewi sembab, dan luruhkan seluruh pertahanan hati yang melihatnya. Ketangguhan lelaki tangguh itu goyah,.. tubuhnya terguncang dan kerap tak sadar. Yaa Rabb… sampai ketika jari-jari ini melenggang, harapan itu masih sama… “Kembalikan Jelita…”

Waktu kian larut dan asyik suguhkan cerita tentang hidup. Jejak Jelita kian mengerut, seluruh sahabat dan kerabat lelah dalam pendakian pada puncaknya. Saatnya untuk ikhlas dan menjadikan ini adalah sebuah pengalaman hidup yang sangat berharga, menjadikan cerita ini adalah contoh untuk semua yang mengetahuinya.

Saya seorang kakak tak mampu lagi berbuat apa-apa, bukan lelah bukan juga gerah. Tapi semua ada batasannya, batasan ketika kita perlu untuk maju dan lupakan sesuatu yang buntu, batasan ketika saatnya kita diam dan larut dalam do’a yang khusyu.  Pencarian yang dilakukan sudah maksimal, kepada mereka para ulama, kepada mereka dari pihak kepolisian sudah berulang-ulang kami lakukan.

Move On.. jangan terus terpuruk dalam titik yang belum pernah kita temukan dimana, itulah kesepakatan yang saya buat dengan saudara-saudara saya saat itu, kami yakin bisa untuk tidak meratapi kejadian ini. Tapi ternyata salah… kemungkinan itu bisa untuk saya dan keluarga lainnya melupakan dan menyimpan Jelita dalam bait-bait do’a dihati saja. Namun berbeda dengan Sang Dewi yang terus mencari, tak terpikir oleh lelah yang dideritanya, tak terpikir oleh sakit yang dirasakannya.

Ba’da shalat subuh… Sang Dewi menghilang, kami panik dan satu hal yang kami yakini Sang Dewi pergi mencari Jelitanya yang belum kembali, kini hati kami kembali carut marut, dalam terik yang kian memekik, dalam dahaga yang asyik berlaga.. Yaa Rabbiii… lihatlah.. didepan kami, Sang Dewi berjalan, terseok-seok tanpa alas dikakinya, peluhnya basah dan gurat-gurat diwajahnya semakin jelas berteriak memanggil Jelitanya yang seolah asyik dalam dunianya. Entah apa yang harus diperbuat saat itu,.. jiwa Sang Dewi mengalami depresi, dan Lelaki Tangguh itu hanya tergeletak dihamparan tikar tanpa kata yang keluar. Ya Allah… sulit rasanya membayangkan tubuh renta kedua orangtuaku seperti luruh tak bertulang, sulit rasanya membayangkan Sang Dewi tanpa isi perut yang bisa menopang daya tahan tubuhnya, berjalan tanpa alas kaki ditengah terik matahari… dalam hitungan jam yang kejam.

Th. 2011
Ramadhan kedua masih sama, hening tanpa hadirnya celoteh Jelita, gema takbir kembali sentuh hati kami dengan sayat-sayat rindu untuknya, yang patut disyukuri adalah kembalinya senyum Sang Dewi, kembalinya kekuatan Lelaki tangguh itu…

“Rabbiii… hanya kepada-Mu nikmat itu kembali dengan hadirnya semangat kedua orangtua kami…”

Harapan dan impian untuk terus dapat berkumpul utuh sudah tak lagi jadi yang utama, dengan bijak lelaki tangguh berkata..

“Semua sudah kehendak Allah, tugas kita jangan putus dari do’a untuknya, semoga dia pulang dengan keadaan baik-baik saja.. yakin.. bahwa dia akan kembali.. hidayah itu pasti ada…“

Allhamdulillah… Ramadhan kedua tanpa hadirnya Jelita menguatkan hati kami bahwa sebenar dia disana merindukan keluarganya juga, darah itu masih deras mengalir dalam tubuhnya, dan tak akan berubah, sesukses apapun dirinya diluar sana tetap darah yang mengalir adalah darah dari orang sederhana dan akan tetap seperti itu.
“Kesabaran dan keikhlasan adalah awal untuk terciptanya sebuah impian…”
Entah kapan tepatnya, akhirnya Jelita menampakkan dirinya… tidak secara langsung memang, namun akun FBnya yang lama kembali aktif, disanalah terlihat dia memang semakin cantik, terlihat sukses dengan penampilannya yang bukan seperti orang biasa, kesempatan itu yang membuat saya tak lepas untuk memperhatikannya, coba mencari tahu keberadaan dari alamat yang dia tulis diakun FBnya, lekuk  wajahnya memang terlihat bersih namun saya yakin garis-garis itu mengisyaratkan penyesalan, kerinduan dan tidak percaya diri....

To be continued... 

Komentar

  1. kisah nyata ini nek?
    ngalir bner.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hu'umm... 'jaga keluargamu nek'.. ;')

      Hapus
  2. bukan fiksi ya teh?

    jadi begini toh gaya khas menulis teh bonitz :)
    capslocknya nusuk-nusuk hhe :D

    keep writing teh. I'm waiting next chapter..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya uchank... :D

      Ha'haaaa... ketusuk juga? :P

      InsyAllah ^_^

      Hapus
  3. teteeeeeeeeeh.. >,<

    *speechless*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih ada do'a untuknya Piii... ^_^

      Hapus
  4. ya Allah...ini cerita adekmu beneran ya mpok :(

    smg sllu diberi kesehatan dan kebahagiaan buat jelita, dan kesabaran orangtua dpt ganjaran lebih dr Allah nantinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiinn.. makasih do'anya miii... :')

      Hapus

Posting Komentar

Makasih buat jejaknya... ^_^

Postingan populer dari blog ini

Manusia

Perkara Manusia...

“Hanya di Kota Tomohon, Manado, Anda Dapat Menyaksikan Hamparan Bunga dan Festival Bunga Seperti di Luar Negeri”