Langsung ke konten utama

LENTERA #3

image by google
Satu hari nyaris penuh bersamamu, kita sama-sama membuka semua tentang perasaan yang tertahan. Kerap pandangan kerinduan itu menuntun kita untuk tidak saling menjauh. Perjalanan yang romatis dengan aura gerimis dan cuaca yang cerah seolah membujuk kita tetap dalam rasa yang semakin indah ini. Tawamu, bicaramu dan matamu yang tidak pernah diam itu. Mengusik aku untuk tetap memanjakanmu, menyayangimu dan mencintaimu lebih dari sebelumnya. Yaaa.. semakin hari aku akan mencintaimu lebih dari hari kemarin. Dan kamu tahu itu. Dalam gejolak emosi atau amarahmu sekalipun, rasaku tetap melambung dan mengakar diujung lembayung.

Tidak pernah cukup! Yang selalu kita rasakan saat merajut kebersamaan. Obrolan kita masih amat menyenangkan, walau terkadang cemburu di dadaku tertumpahkan. Kamu yang selalu membuat hati yang lain kasak kusuk, hingga mereka mencuri waktu dengan memaksakan untuk ada bersamamu. Hhhhh… rasanya ingin pergi menjauh dan menghilangkanmu dari pikiranku. Aku bukan sedang cemburu buta, aku dilanda kecewa dan amarah yang berulangkali ketika kamu ingkari tentang janji itu. Mencoba mengerti.. mencoba memahami, tapi hati dan rasa itu tidak pernah bisa sembunyi. Untung saja marah dan kecewaku masih bisa kuselipkan kesabaran didalamnya.

Lentera…
Jujur ada bisikan untuk meninggalkanmu saat untuk kesekian kali kamu pergi dengan salah satu dari mereka. Ada keinginan kuat untuk aku pergi bersama yang lain, dengan seseorang yang membuatmu menjadi kacau mungkin. Tapi aku tidak ingin menjadi dirimu. Aku adalah aku yang menghilangkan kegundahan ini dengan caraku. Dan sebisa mungkin tetap bisa menjaga hatimu, menjaga perasaanmu. Aku rapuh memang.. tapi aku masih tahu cara untuk menguatkannya. Iyaa.. ‘Kepercayaan’ jadi satu-satunya provokator yang enggan hilang dipikiranku. Aku masih percaya dan bisa merasakan kasih sayangmu yang nyata. Perhatianmu yang tidak biasa dan sapaan ‘sayang’ mu yang penuh makna. Hhhhhh… Seperti yang sering kamu katakan…

“Ketika bersama mereka, hatimu biasa saja, karena tetap hatimu milikku”

*****

"Niel pulang..."
Isi pesanmu via WA. Dan aku menghela nafas membacanya. Siap-siap saja aku kehilanganmu dengan kembalinya lelaki itu, lelaki yang kerap mengacuhkanmu disaat kamu butuhkan dirinya. Lelaki yang selalu asyik dalam petualangannya, yang membuatmu akhirnya jatuh kedalam hatiku. Sesak dan mengunggah perasaan kacau setiap kali mengingatmu bersamanya. Dan aku tahu, aku salah seperti itu. Dia suamimu, dan aku hanya seseorang yang mencintaimu dalam ketidakmungkinan ini. Kita sama sebenarnya saling mencintai, menyayangi dan lemah dalam kondisi seperti ini. Niel adalah ayah dari anak-anakmu. Sosok yang masih melindungimu sebenarnya, hanya dia pernah salah. Dan kepercayaanmu padanya sudah tidak sepenuhnya. 

Terkadang aku bersyukur Niel pernah mengecewakanmu. Andai saja dia selalu baik dan menjagamu, kita tidak akan pernah seperti sekarang...

Lentera...
Waktu kian hari berjalan, dan tak seharipun ingatan tentangmu menghilang di pikiranku. Aku dilanda demam sekarang, demam untuk menemuimu walaupun sebentar. Kamu tahu? aku tengah dilanda keram. Keram pada perasaanku yang lagi-lagi merindu tentangmu. Sudah cukup lama kita hanya berbicara dalam ruang social media. Dan kamu tahu persis, tanpa bisa melihatmu secara nyata adalah hukuman untukku. Ini salah... dan tidak akan menjadi benar ketika dirimu masih menjalin ikatan itu. Dan akan semakin salah ketika aku yang sendiri, mengharapkanmu bisa melepas status sakralmu...

Dalam kegelapan, hanya lilin yang terpijar. Kita berbicara lewat telepon. Dan sapaan rindumu melautkan kerinduanku. Kita sedang merasakan getarannya. Dan selalu bisa melukiskan tawa yang renyah. Tawa kehangatan yang dibumbui oleh kisah ketidakmungkinan tentang kita. Hmmm... 

Komentar

  1. Lama tak berkunjung kesini..bacaa bacaaa ahh... 😊😊😊

    BalasHapus

Posting Komentar

Makasih buat jejaknya... ^_^

Postingan populer dari blog ini

LENTERA

Entah sudah berapa senja menemani pertemuan kita, dengan siluetnya yang terkadang manis dan miris. Sudah berapa kali gerimis memayungi kebersamaan kita, bahkan dalam ruang itu kita kerap merapal kata-kata yang mengusir kejenuhan... Pertemuan memang sebuah rahasia, begitu pun perpisahan... 
Kita bertemu lalu dipisahkan, itu adalah hal yang sudah ditawarkan hidup. Namun bukan berarti kita harus membenci keadaan. Bagaimanapun kita akan selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan yang berbeda. Hari ini begini,esok begitu, lusa dan yang akan datang pun tidak sama. Tidak menjadi haram ketika soal hati harus terhenti, namun tidak juga halal ketika kita tahu perbedaan itu tidak bisa disatukan, namun kita menuntut demikian.
Rumitnya isi kepala sekarang seperti tengah berada dalam belukar yang dipenuhi alang-alang yang tinggi. mengajak jemari untuk beberapakali menggaruk yang sudah terkeruk. Ini apa??? Reaksi dari jawaban yang di inginkan pun menjadi suram. 
Tiba-tiba pengap, sesak...
Dan tengg…

LENTERA #2

11.30 Wib Waktu yang kamu tentukan hari ini untuk kita bertemu, harus selesai sekarang! Pintamu lewat whatsapp, dan akupun memberikan emoticon tanda setuju.
Gaduh dan rusuh perasaanku kini, sengaja kusibukkan diri dengan beberapa kegiatan. Hanya untuk coba melenyapkan perasaan yang entah disebut apa. Mengingatmu adalah cahaya, mengingatmu adalah rindu, mengingatmu adalah candu. Hhhhh.. haruskah berakhir sekarang? Fiuhh.. 
Jarum jam diangka 11.18 Wib 12 menit lagi wajahmu akan menari bebas dihatiku, bahkan mungkin liar mencakar-cakar direlung yang terdalam. Hukuman apa ini Tuhan? Lirih ku mengeluh. Detak jarum jam saat ini tak ingin kudengar, semakin gila rasanya harus menemuimu dan akhirnya meninggalkanmu. Hhhh.. lagi-lagi menghela nafas.

Ternyata kamu terlambat, cukup lama aku menunggu di depan minimart. Kesabaranku semakin diuji rasanya. Cuaca panas menambah kegelisahan yang tak sedetikpun mau hilang. Tapi aku menunggu, akan terus menunggu sampai akhirnya kita sepakat meninggalkan …

Perkara Manusia...

Perkara Manusia...  Merasa BENAR adalah salah, tapi cobalah merasa SALAH agar tahu caranya untuk BENAR...
Nasehat itu tidak melulu dengan sebuah ayat atau hadist, tapi sikap dan sifat yang jadi kebiasaan juga dapat jadi NASEHAT bagi yang berpikir... Simplenya NGACA dulu sebelum kasih statement orang lain itu begini dan begitu, kurang ini kurang itu... 
Apalagi statement ditujukan kepada orang terdekat. Sadar diri itu penting, benahin diri sendiri lebih penting! Jangan khilaf, orang terdekat adalah yang tahu segalanya tentang kita. Nggak lucu tetiba kamu mau pasanganmu berubah, sedangkan kamunya masih SALAH! 
Baru separuh perjalanan lho.. Masih panjang dan rumit perjuangannya, jangan kufur nikmat yang efeknya bisa buat HATI nggak SEHAT! Hargai diri sendiri dulu, kalau belum bisa hargai orang lain. Nggak perlu umbar kita yang paling SABAR, karena tabir kehidupan tetap butuh keselarasan! .
Jauhkan kami dari kebiadaban, ketika dekat.. RAJAM!
#gituaja