Langsung ke konten utama

Terapi Hati #1

Ilustrasi dari mbah google

Rumah itu lusuh, tak ada yang sedap dalam pandangan. Bukan karena bilik bambu yang jadi dindingnya, namun serakan sampah yang sering terlelap dihalaman itu menganggu! Mustahil rasanya, jika bangunan yang lumayan besar itu tak berpenghuni. Ada dua, bahkan sampai tiga sepeda tua terparkir didepan rumah itu, gundukkan pasir yang jadi ajang bermain bocah-bocah dikala hujanpun turut jadi pemandangan yang kerap. Hmmm... apa iya mereka nyaman dengan kondisi seperti itu? atau aku yang terlalu sok bersih, sok rapi, dan sok apik? "Jangan sudutkan aku pada keangkuhan Ya Rabb..." bisik hatiku saat itu. 

Lelaki berkopiah putih itu mengayuh sepeda tuanya dengan semangat! ada ketegaran luar biasa yang kulihat dari sorot matanya, hati ini pun kembali dalam nada-nada bertanya. "Setua itu, masih bekerja?" Hufftt...  kulihat Lelaki tua itu menuju sebuah jalan raya. Lalu berhenti disebuah saung berukuran 2 x 2,5 meter. Diambilnya sebuah sapu lidi panjang, lalu dikenakannya topi lusuh menutupi kopiahnya, dan dengan senandung kecil ia menyapu jalanan itu tanpa rasa malu. Senyumnya lebar, seolah meluluhkan kekhawatiran di benakku. Hmmm... tiba-tiba aku peduli tentang sosoknya ! dengan sigap kuarahkan kamera dan entah berapa banyak aku memotretnya...


"Kenapa malam ini tercipta suasana dingin yang hebat?" sial... umpatku, sambil mengenakan kaus kaki cokelat pemberian gadis manis asal ciamis.. tak lupa kupertebal bungkus badanku dengan empat lapis baju. Terakhir sweater biru muda dari 'dia' yang pernah kucinta.. :) dengan sigap kubungkus sebuah frame tentang perjalanan seorang lelaki tua yang jadi perhatianku akhir-akhir ini. Hmmm.. besok akan kujumpai lelaki tua itu, dengan oleh-oleh yang kubawa untuknya! "Untuk Bapak..." tulisku pada sebuah kertas putih pembungkus bingkisan itu.. :D

***

Mereka bersorak, bahkan tak sadar berteriak diantara khalayak! Aku tetap dalam jeep ku, memandang kebahagiaan semesta milik lelaki tua itu. Hanya itu... padahal cuma itu... kataku dalam benak yang beronak! menjelang subuh tadi, sengaja kuletakkan bingkisan itu didepan pintu rumahnya!............

***

Dua tahun berlalu, didepanku bukan lagi rumah lusuh, lebih minimalist memang, tapi buatku takjub! setidaknya rumah itu terlihat bersih dan rapi, ada aneka tanaman dan bunga di halamannya. Dan yang terpenting adalah senyum itu tak pernah lepas dari wajah lelaki tua itu. Hmmm... Ada kios kecil di halamannya ternyata, tepatnya kios menjual nasi uduk juga lontong sayur... "Akhh.. masih saja mereka bersikap sederhana..." aku cemburu, cemburu pada kemesraan dua manusia renta yang tak lekang oleh waktu untuk bahu-membahu.. aku cemburu, cemburu pada kerendahan hati bocah-bocah kecil itu! aku cemburu pada waktu yang belum pertemukan aku dengan ketulusan yang beralasan!

"Mau sarapan apa Dik...?" tiba-tiba saja Ibu tua itu bertanya.

"Hmm.. nasi uduk saja bu..." jawabku gugup, tak sadar aku memang sudah agak lama duduk dikursi panjang  yang disediakan disitu. 

"Orang baru ya Dik, saya baru liat... " dengan ramah, ibu itu kembali bertanya.

"Gak juga sih bu'.. Dua tahun lalu saya sering lewat sini, cuma memang baru mampir kesini.." jawabku dengan ketenangan.

Dalam sekejap, sepiring nasi uduk dan gorengan ada dalam hadapanku sekarang, sesegera mungkin kunikmati... 

"Dulu.. saya lewat sini, kayanya belum ada yang berjualan bu'.. Ibu penghuni baru ya?" iseng kutanyakan perihal perubahan yang ada sekarang! 

"Gak ko'.. tapi rumah dan suasananya yang baru Dik... Dulu ini rumah kumuh, tapi Allah memang baik, diberikannya kami rizki yang entah darimana..." Ibu itu bercerita, bahagia tapi terkesan hampa... 

"Mmmm,,, kenapa di beri rizki Ibu malah bersedih?" tanyaku, terkesan menyelidik, namun kusembunyikan dengan menikmati nasi uduk.

"Dua tahun lalu,.. tiba-tiba didepan rumah kami ada bingkisan Dik,.. isinya foto-foto perjalanan Bapak, dari rumah menuju tempatnya bekerja! bukan itu saja, ada selembar cek sebesar Rp. 1 miliar..!" si Ibu menerawang bercerita, aku hanya terdiam... dan menggumam dalam hatiku.. 

"Lalu???" kembali aku bertanya.

"Yaaa,.. namanya kita orang susah Dik,.. kita gak tahu sipengirim itu siapa, makanya kita takut untuk pakai uang itu,.. walaupun ada surat dari sipengirim kalau itu buat Bapak, Tapi apa iyaa.. ada malaikat yang tiba-tiba datang terus kasih uang yang jumlahnya miliar itu?" Ibu itu pun menatapku, seolah menginginkan jawaban dariku.

"Mungkin saja kan bu..?" jawabku sambil tersenyum..

"Memang mungkin, tapi kami lebih memilih menyumbangkan uang itu kepanti asuhan, dan yayasan-yayasan lainnya Dik.." tiba-tiba suara berat itu mengejutkanku, suara lelaki tua yang kukagumi sosoknya. Aku terperanjat! 

"Disumbangkan???" tanyaku tak percaya... 
"Lalu perubahan hidup Bapak sekarang ini bukan dari hasil pemberian itu?" kembali kuutarakan pertanyaanku.

"Yaa ada kaitannya ko' sama pemberian itu.. perubahan ini semua hasil dari keihklasan kami menyumbang pemberian misterius dua tahun lalu... setidaknya Allah menjaga kami untuk tidak hanyut dalam hal duniawi..." jawab lelaki tua itu dengan senyum penuh arti... 

***

Satu hal aku tahu sekarang ! aku masih sombong!!! rutuk hati Gege... 

Komentar

  1. Balasan
    1. nyoba-nyoba ini mak Al'.. makasih kunjungannya.. :D

      Hapus
  2. Jujur ini memang benar2 terpai hati :D
    salut, salut buat tulisan ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allhamdulillah... ^^
      thx masnyaaa.. :D

      Hapus
  3. Balasan
    1. iya teteh emang keren.. #ehh.. ;))
      #salahfocus

      syukran di'..

      Hapus
  4. Balasan
    1. Allhamdulillah...
      banyak belajar dari Bunda.. ^^

      Hapus
  5. sip..sip...
    Jleb! Banget...tersindir deh... Kadang2 ngerasa paling baik..., padhal masih banyak yang lebih mulia dari kita...

    Sukses deh. Salam kenal.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya,.. bener mak,..:D
      makasih kunjungannya, salam kenal kembali.. ^^

      Hapus
  6. Teh Anita....
    Aih..aih.. sipakar puisi sekarang berubah haluan ke fiksi..
    saingan nih sama Ridwan..

    Lanjutkan perjuanganmu

    BalasHapus
    Balasan
    1. ish.. sejak kpn nama saya itu kang?? :P
      Hehee.. jauh banget klo mo saingan sama om ndut -__-
      InsyAllah berlanjut... :D

      Hapus
    2. ya suka2 dong...
      saya pengen panggil nama Anita wkwkkwkwk...
      atau mau nama lebih lengkap lagi? La Isla Bonita...

      Hapus
    3. ish... ngajak ribut.. >.<

      Hapus
  7. Wah bagus sekali mbak tulisannya :)
    salam blogger dr Jember.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih belajar Mas,.. makasih n' salam blogger dr Bogor.. :)

      Hapus
  8. keren mbak tulisannya
    benar2 postingan yang menjadi terapi hati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah2an bermanfaat,.. :)
      Makasih Mbak Lisa.. ^^

      Hapus
  9. Like this!
    Like this!
    Semangat menulis dan ngeblog:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mak Juli.. :D
      InsyAllah ttp semangat ^o^/

      Hapus
  10. iihhh kerennnnn, daleeeeeeeeem banget maknanya
    jd bertanya2, uang 1 milyar itu uang apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allhamdulillah masih bermakna.. ^_^
      Hmmm.. untuk 'ujian' Mak.. :)

      Hapus
  11. kunjungan bayi nih gan. maklum newbie baru 22 hari umurnya.
    mohon bantuan dan tips tips menariknya. sukses selalu ya gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihiiuu.. bayinya ajaib, usia 22hr udah bisa nge-Blog :p
      Sukses juga ya Mas.. :D

      Hapus
  12. Keyeenn mbak ceritany, terharu sm sikap si bapak berkopiah :')
    Semoga si gege gak sombong lg, btw kerja ap si gege, banyak banget duitny.. *salahfokus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha'haaa... si Gege itu Milyader muda yang ga abis2 duitnya.. :p
      mau?? #ehh

      Hapus
  13. ya, kita masih sombong!!

    makin adem aja tulisan tetehnya dhe ini, fokus bikin buku aja teh. novel, kumpulan cerpen atau apalah itu. dhe support 91%, promise. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita?? dhe kalee.. :p

      Do'ain z dhe' sayang.. :*

      Hapus
  14. semoga dijauhkan dari sifat sombong ya teh

    BalasHapus
  15. Balasan
    1. Hihiii... InsyAllah kalo udah peDe.. :D
      Makasih mbak Mugni ^^

      Hapus
  16. Nice story. Lanjuuuut .... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bunda apa kabaaaarrrr?? #hug :D
      insyAllah berlanjut.. ^^

      Hapus
  17. ini di film apa yaaa? hehe... mantaaap dah

    BalasHapus

Posting Komentar

Makasih buat jejaknya... ^_^

Postingan populer dari blog ini

LENTERA

Entah sudah berapa senja menemani pertemuan kita, dengan siluetnya yang terkadang manis dan miris. Sudah berapa kali gerimis memayungi kebersamaan kita, bahkan dalam ruang itu kita kerap merapal kata-kata yang mengusir kejenuhan... Pertemuan memang sebuah rahasia, begitu pun perpisahan... 
Kita bertemu lalu dipisahkan, itu adalah hal yang sudah ditawarkan hidup. Namun bukan berarti kita harus membenci keadaan. Bagaimanapun kita akan selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan yang berbeda. Hari ini begini,esok begitu, lusa dan yang akan datang pun tidak sama. Tidak menjadi haram ketika soal hati harus terhenti, namun tidak juga halal ketika kita tahu perbedaan itu tidak bisa disatukan, namun kita menuntut demikian.
Rumitnya isi kepala sekarang seperti tengah berada dalam belukar yang dipenuhi alang-alang yang tinggi. mengajak jemari untuk beberapakali menggaruk yang sudah terkeruk. Ini apa??? Reaksi dari jawaban yang di inginkan pun menjadi suram. 
Tiba-tiba pengap, sesak...
Dan tengg…

Perkara Manusia...

Perkara Manusia...  Merasa BENAR adalah salah, tapi cobalah merasa SALAH agar tahu caranya untuk BENAR...
Nasehat itu tidak melulu dengan sebuah ayat atau hadist, tapi sikap dan sifat yang jadi kebiasaan juga dapat jadi NASEHAT bagi yang berpikir... Simplenya NGACA dulu sebelum kasih statement orang lain itu begini dan begitu, kurang ini kurang itu... 
Apalagi statement ditujukan kepada orang terdekat. Sadar diri itu penting, benahin diri sendiri lebih penting! Jangan khilaf, orang terdekat adalah yang tahu segalanya tentang kita. Nggak lucu tetiba kamu mau pasanganmu berubah, sedangkan kamunya masih SALAH! 
Baru separuh perjalanan lho.. Masih panjang dan rumit perjuangannya, jangan kufur nikmat yang efeknya bisa buat HATI nggak SEHAT! Hargai diri sendiri dulu, kalau belum bisa hargai orang lain. Nggak perlu umbar kita yang paling SABAR, karena tabir kehidupan tetap butuh keselarasan! .
Jauhkan kami dari kebiadaban, ketika dekat.. RAJAM!
#gituaja

LENTERA #2

11.30 Wib Waktu yang kamu tentukan hari ini untuk kita bertemu, harus selesai sekarang! Pintamu lewat whatsapp, dan akupun memberikan emoticon tanda setuju.
Gaduh dan rusuh perasaanku kini, sengaja kusibukkan diri dengan beberapa kegiatan. Hanya untuk coba melenyapkan perasaan yang entah disebut apa. Mengingatmu adalah cahaya, mengingatmu adalah rindu, mengingatmu adalah candu. Hhhhh.. haruskah berakhir sekarang? Fiuhh.. 
Jarum jam diangka 11.18 Wib 12 menit lagi wajahmu akan menari bebas dihatiku, bahkan mungkin liar mencakar-cakar direlung yang terdalam. Hukuman apa ini Tuhan? Lirih ku mengeluh. Detak jarum jam saat ini tak ingin kudengar, semakin gila rasanya harus menemuimu dan akhirnya meninggalkanmu. Hhhh.. lagi-lagi menghela nafas.

Ternyata kamu terlambat, cukup lama aku menunggu di depan minimart. Kesabaranku semakin diuji rasanya. Cuaca panas menambah kegelisahan yang tak sedetikpun mau hilang. Tapi aku menunggu, akan terus menunggu sampai akhirnya kita sepakat meninggalkan …