image by google
Lagi-lagi, seperti itu.. Hal yang kerap kau lakukan yang membuatku menjadi tanpa arti. Tidak salah memang, namun sakitnya masih hingga sekarang. Kita hanya sedang pada persepsi kita masing-masing. Dan, berakhir baik-baik saja hingga kapan belum bisa kupastikan. Nikmati duniamu yang selalu sempurna, dan aku, dengan duniaku.. yang sepi akan kisah-kisah bahagia. Saat ini, membersamaimu dalam cerita-ceritaku adalah salah satu cara untuk tidak terlelap pada kekecewaanku. Sungguh! Kecewaku masih saja memberikan bekas yang mengiris jika mengingatnya. Kita tidak pernah mengerti ketika perkara sensitifitas sedang meninggi.
Maafku tak menjadi arti buatmu, semua hanya sekadar lelucon yang akan menyudutkanku pada akhirnya. Hhhh.. setidaknya, sekarang ini rinduku tetap sama. Namun, untuk memulainya.. masih belum bisa. Kalau boleh aku memilih, aku akan bercerita kisahku disini. Ya! Suasana di kotak ini sedang sepi, beberapa yang ada hanya menyibukkan dengan aktivitasnya. Ada yang sedari pagi mengangguku sebenarnya. Berkicau tentang menu kesukaan-ku, tentang teka-teki yang hanya menyamarkan perasaanku sekarang.
Jika saat itu tidak ada lelah
jika saat itu tidak ada remah-remah
.............................
.............................
Jaga baik-baik hatimu dan sehatlah selalu...
Dalam terik yang pelik, gumpalan debu yang menyerbu, dan barisan kendaraan yang terus menerus meneriakan klaksonnya. Sejurus hati ingin mengumpat dan balas berteriak. Namun karena hati tertuju pada satu hal, semuanya seolah tak berarti. Keinginan menemukannya dalam tatap mata yang ceria, wajah yang dikiaskan penuh kerinduan adalah hal yang terus menerus membentuk senyum yang halus. Tentu saja dalam setiap nafas ada tentangnya. Beginilah perasaan, ketika dibanjiri dengan satu nama di hati, akan terus selalu tentangnya. Ada energi yang lain, merasa lebih dari biasanya.
Sejenak keadaan itu baik-baik saja, sampai akhirnya entah apa yang salah. Terasa jauh, padahal hanya sejengkal, terasa buta, terasa tuli, dan mati rasa. Hingga menyudutkan pada kesalahpahaman tak beraturan. Menghadiahkan sesak, dan keram di kepala. Hanya kristal-kristal bening yang menjadi penghilang setumpuk perasaan yang ada.
Tapi malam meleburkan semuanya. Tawa dan cerita pun mengajak pada sajak-sajak penyair mahir, seolah tidak ada apa-apa. Tersenyum dan teruslah seperti ini... :)
Tapi malam meleburkan semuanya. Tawa dan cerita pun mengajak pada sajak-sajak penyair mahir, seolah tidak ada apa-apa. Tersenyum dan teruslah seperti ini... :)
Hari ini masih ditempat yang sama, ditemani AFFOGATO yang selalu bikin nagih. Hmmm... alunan music yang mengalun disini menjadi propokator untuk mengingat hal-hal yang mengunduh hati menjadi gaduh. Tumben, biasanya akan diputar lagu-lagu remaja kekinian, namun kali ini instrument piano jadi backsound tulisan sekarang. Serius, tiba-tiba bikin meleleh.. :(
Selintas pikiran kian mengacak dari kejadian satu pada kejadian lainnya. Dari hal yang menyenangkan sampai hal yang jadi melodrama. Seperti AFFOGATO yang dibuat di cafe' ini. Ya! Paduan vanilla ice cream dan long black coffee yang mengisi gelas mungil jadi khas rasa AFFOGATO. Sederhananya adalah vanilla ice cream yang kian meleleh tidak saja mendinginkan rongga dimulut, namun menyejukkan tenggorokan. Lalu, long black coffee yang tanpa gula seolah menjadi penikmat rasa diatas rasa. Tampilan keduanya tidak seperti sajian yang lain, yang akan di design semenarik mungkin. AFFOGATO terlalu sederhana secara fisik, tapi diukur dari rasa.. Jujur saya menjadi fans setia. (bukan iklan)
Begitupun yang terlintas sekarang.. seperti vanilla ice cream, seperti long black coffee. Dan sepertinya hidup akan terus berjalan seperti ini. Karena sudah mejadi lumrah ketika kita dihadapkan pada berbagai masalah. Sudah menjadi biasa ketika kita diberikan kondisi yang full dengan sensasi. Pada saatnya semua akan kita sajikan dengan cara kita sendiri. Tapi jangan pernah menutup ruang hati, seberat apapun beban yang ada, adalah cara Tuhan untuk mendekatkan kita pada-Nya. Dan bagaimanapun kita selalu butuh tempat menuangkan kekacauan yang ada.
Kini...
Sederet kursi jadi perhatian
susunan kopi di rak mencuri pandangan
ada simpul senyum tersirat
ada goresan tersurat
butuh limau sepertinya
atau aroma dari pemanggang kebab?
pilih saja sesukamu
dan jangan biarkan decak cicak menjadi candu
disudut sana berteriak...
oohhh... begituu..
abaikan!
......................
Kini tentang hal lain, sesuatu yang sudah mendarah daging. Tak perlu lah banyak dibahas. Tetap jadi rahasia hati. Anggap saja kaus kaki. ^^
Back to AFFOGATO...
Begitupun yang terlintas sekarang.. seperti vanilla ice cream, seperti long black coffee. Dan sepertinya hidup akan terus berjalan seperti ini. Karena sudah mejadi lumrah ketika kita dihadapkan pada berbagai masalah. Sudah menjadi biasa ketika kita diberikan kondisi yang full dengan sensasi. Pada saatnya semua akan kita sajikan dengan cara kita sendiri. Tapi jangan pernah menutup ruang hati, seberat apapun beban yang ada, adalah cara Tuhan untuk mendekatkan kita pada-Nya. Dan bagaimanapun kita selalu butuh tempat menuangkan kekacauan yang ada.
Kini...
Sederet kursi jadi perhatian
susunan kopi di rak mencuri pandangan
ada simpul senyum tersirat
ada goresan tersurat
butuh limau sepertinya
atau aroma dari pemanggang kebab?
pilih saja sesukamu
dan jangan biarkan decak cicak menjadi candu
disudut sana berteriak...
oohhh... begituu..
abaikan!
......................
Kini tentang hal lain, sesuatu yang sudah mendarah daging. Tak perlu lah banyak dibahas. Tetap jadi rahasia hati. Anggap saja kaus kaki. ^^
Back to AFFOGATO...
Seperti biasa, disini tempat menghilangkan kejenuhan. Dan hari ini kembali menyeruput secangkir long black coffee yang sudah menjadi minuman wajib disini. Sebenarnya agak random, entah mau nulis tentang apa. Tapi melihat dan memperhatikan tempat ini, cukup bahagia sebenarnya. Ada se gank anak SLTP (kaum hawa) yang sedang tertawa level 25. Obrolan mereka yang ringan dan menyudutkan pada hal tentang rutinitas mereka mengunggah senyum lebar buat saya. 21thn yang lalu saya dan mereka adalah sama, mengenakan seragam putih biru yang terkadang hanya ganti sekali seminggu.. Hahaha.. Yang berbeda adalah jenis musik yang mereka bahas, makanan kesukaan, tempat kongkow dan kegiatan ekskul yang berbeda 180 derajat tentunya. Bahagia itu sederhana memperhatikan dengan diam itu hal yang menyenangkan.
Adapula sekumpulan remaja yang duduk tepat dekat pintu masuk. Tidak terlalu ramai yang mereka bahas, malah terkesan basi dan pasif.. semuanya sibuk dengan smartphone masing-masing. Hmm..
Dan setelah asyik menelusuri setiap hal di sini, kembali ke laptop. Menguliti lagi tentang keadaan sendiri yang masih belum temui arah untuk tetap fight menjalani kehidupan tanpa pekerjaan. Ya! sekarang dalam kondisi menjadi manusia free. Sebulan sudah terlewati tanpa terasa. Hari-hari yang dilalui-pun kian menuntut untuk tidak semakin larut. Ada sesak sejenak, ingin lari sebenarnya.. Tapi entah lari kemana. Kisah kali ini masih harus terus diperjuangkan bukan?
Lagi-lagi mintanya tetap diberi sehat, karena dengan sehat... Kemanapun langkah menjejak semua akan lebih baik. Dengan begitu mempengaruhi hati untuk meniadakan ketidakbaikan.
keep smile! :)
Lagi-lagi mintanya tetap diberi sehat, karena dengan sehat... Kemanapun langkah menjejak semua akan lebih baik. Dengan begitu mempengaruhi hati untuk meniadakan ketidakbaikan.
keep smile! :)
tentang aroma limau yang menusuk hidung
berteman secangkir kopi yang tersenyum meniadakan kepenatan
ada setumpuk bising, dan sebaris tatap menelisik
harap-harap cemas aku menunggu...
dan waktu seolah terantuk pada rasaku...
Tersenyum pada katamu
tentang warna pelangi yang menyimpan rindu
sedetikpun tak surut rasanya menahan sesak dalam benak
pikirpun meluas, menyapa langit yang masih pamerkan awan
harap-harap cemas aku menanti...
dan seringkali tatap ini menjurus pada daun pintu
Dan...
dalam waktu yang tidak sama...
Terjerumus pada ingkarmu..
abaikan hati..
pahamku, menanti seperti mati
apa peduliku?
seperti menggendong sekarung beras
dan apa pedulimu?
hanya hitungan yang sebentar sudah memutar
Ini hanya awal, menyatukan kebersamaan itu butuh waktu, butuh kesabaran dan ketelatenan. Akhirnya kita tidak pernah tahu sampai kapan kita masih ada dalam satu naungan ini. Harapannya tentu saja akan ada yang kedua, ketiga dan mungkin tak terhitung lagi jumlahnya. Terima kasih untuk kalian yang sudah berpartisipasi menjahit kebersamaan kemarin, tetap solid yaa.. Tetap berpikir positif, karena apapun.. Silaturahim itu rezeki, silaturahim itu nikmat, silaturahim itu sehat.
Allah memberikan semesta yang luar biasa, ditegah kegalauan awal keberangkatan yang penuh cerita nyasar, kita masih bisa tertawa dan melepas penat. Semoga saja akan terus ada cerita yang mengalir indah setelah ini.

Kilas balik.. Hari itu.. tubuh mulai meminta haqnya untuk rehat. Namun janji untuk wara wiri menyebar undangan sudah terlanjur dirapalkan. Apakah tidak akan mengecewakan satu hati bila hari itu dibatalkan? Setidaknya ada banyak manfaat ketika kita melenggang dengan niat yang dipenuhi kebaikan.. walau hasilnya hanya bisa mendengar kata "insyallah" tanpa keseriusan.
Jujur...
Rasa lelah hampir mengikis habis semangat yang ada kemarin. Segala macam praduga, sangkaan dan fitnah membajiri dalam perjalanan menciptakan kemesraan di momen Halal Bihalal ini. Ada keinginan untuk berhenti, namun bisikan untuk terus bertahan lebih besar. Bukankah hal yang wajar, jika dalam setiap kisah akan melewati perjalanan yang sukar. Tidak ada perkara tanpa halangan bukan? Bisikan itu menjadi suporter yang membungkam ketidakberdayaan dalam rasa lelah.
Hallooo Hati...
Sampai kapanpun, tetaplah selalu mengajak kebaikan, membuang serakan kotoran yang hinggap walau sejenak. Jangan bosan untuk selalu menjerumuskan dalam hal yang membentuk pribadi ini tetap sabar dan tahan dari setiap hal yang memojokkan pada rasa ketidaknyamanan.
..................
01 Juli 2018
Cuaca sudah Allah design dengan kesejukan yang penuh. Perjalanan yang berputar-putar pun seolah tidak menyurutkan hasrat untuk tiba pada tujuan yang sudah sering dikibarkan. Wajah-wajah lelah pun surut dengan kerinduan menjemput ukhuwah indah antar alumni. kegalauan sejenak anggap saja bumbu penyedap dari kisah yang sudah Allah gariskan untuk kita. See.... kita berkumpul dalam sebuah ruang yang sudah menjadi perencanaan dari awal. Jangan lihat seberapa banyak yang datang, tapi rasakan seberapa penuh kebahagiaan yang kita dapatkan hari itu. Seberapa kuat kita bisa membaur dalam lautan ketulusan hari itu. Tanpa embel-embel baper apalagi harus melangitkan rasa bosan. Biarlah, beberapa merasa ada yang salah. Toh, pada akhirnya kita yang akan menikmati setiap hal dalam keadaan apapun, kita yang menciptakan kebersihan hati. Bukan yang lain... Istighfar untuk setiap kekurangan yang menyudutkan pada hal-hal yang mengikis momen manis.
Sekian dan terima kasih. I luv u All...
"Together We Are One"
![]() |
| image by google |
Satu hari nyaris penuh bersamamu, kita sama-sama membuka semua tentang perasaan yang tertahan. Kerap pandangan kerinduan itu menuntun kita untuk tidak saling menjauh. Perjalanan yang romatis dengan aura gerimis dan cuaca yang cerah seolah membujuk kita tetap dalam rasa yang semakin indah ini. Tawamu, bicaramu dan matamu yang tidak pernah diam itu. Mengusik aku untuk tetap memanjakanmu, menyayangimu dan mencintaimu lebih dari sebelumnya. Yaaa.. semakin hari aku akan mencintaimu lebih dari hari kemarin. Dan kamu tahu itu. Dalam gejolak emosi atau amarahmu sekalipun, rasaku tetap melambung dan mengakar diujung lembayung.
Tidak pernah cukup! Yang selalu kita rasakan saat merajut kebersamaan. Obrolan kita masih amat menyenangkan, walau terkadang cemburu di dadaku tertumpahkan. Kamu yang selalu membuat hati yang lain kasak kusuk, hingga mereka mencuri waktu dengan memaksakan untuk ada bersamamu. Hhhhh… rasanya ingin pergi menjauh dan menghilangkanmu dari pikiranku. Aku bukan sedang cemburu buta, aku dilanda kecewa dan amarah yang berulangkali ketika kamu ingkari tentang janji itu. Mencoba mengerti.. mencoba memahami, tapi hati dan rasa itu tidak pernah bisa sembunyi. Untung saja marah dan kecewaku masih bisa kuselipkan kesabaran didalamnya.
Lentera…
Jujur ada bisikan untuk meninggalkanmu saat untuk kesekian kali kamu pergi dengan salah satu dari mereka. Ada keinginan kuat untuk aku pergi bersama yang lain, dengan seseorang yang membuatmu menjadi kacau mungkin. Tapi aku tidak ingin menjadi dirimu. Aku adalah aku yang menghilangkan kegundahan ini dengan caraku. Dan sebisa mungkin tetap bisa menjaga hatimu, menjaga perasaanmu. Aku rapuh memang.. tapi aku masih tahu cara untuk menguatkannya. Iyaa.. ‘Kepercayaan’ jadi satu-satunya provokator yang enggan hilang dipikiranku. Aku masih percaya dan bisa merasakan kasih sayangmu yang nyata. Perhatianmu yang tidak biasa dan sapaan ‘sayang’ mu yang penuh makna. Hhhhhh… Seperti yang sering kamu katakan…
“Ketika bersama mereka, hatimu biasa saja, karena tetap hatimu milikku”
*****
"Niel pulang..."
Isi pesanmu via WA. Dan aku menghela nafas membacanya. Siap-siap saja aku kehilanganmu dengan kembalinya lelaki itu, lelaki yang kerap mengacuhkanmu disaat kamu butuhkan dirinya. Lelaki yang selalu asyik dalam petualangannya, yang membuatmu akhirnya jatuh kedalam hatiku. Sesak dan mengunggah perasaan kacau setiap kali mengingatmu bersamanya. Dan aku tahu, aku salah seperti itu. Dia suamimu, dan aku hanya seseorang yang mencintaimu dalam ketidakmungkinan ini. Kita sama sebenarnya saling mencintai, menyayangi dan lemah dalam kondisi seperti ini. Niel adalah ayah dari anak-anakmu. Sosok yang masih melindungimu sebenarnya, hanya dia pernah salah. Dan kepercayaanmu padanya sudah tidak sepenuhnya.
Terkadang aku bersyukur Niel pernah mengecewakanmu. Andai saja dia selalu baik dan menjagamu, kita tidak akan pernah seperti sekarang...
Lentera...
Waktu kian hari berjalan, dan tak seharipun ingatan tentangmu menghilang di pikiranku. Aku dilanda demam sekarang, demam untuk menemuimu walaupun sebentar. Kamu tahu? aku tengah dilanda keram. Keram pada perasaanku yang lagi-lagi merindu tentangmu. Sudah cukup lama kita hanya berbicara dalam ruang social media. Dan kamu tahu persis, tanpa bisa melihatmu secara nyata adalah hukuman untukku. Ini salah... dan tidak akan menjadi benar ketika dirimu masih menjalin ikatan itu. Dan akan semakin salah ketika aku yang sendiri, mengharapkanmu bisa melepas status sakralmu...
Dalam kegelapan, hanya lilin yang terpijar. Kita berbicara lewat telepon. Dan sapaan rindumu melautkan kerinduanku. Kita sedang merasakan getarannya. Dan selalu bisa melukiskan tawa yang renyah. Tawa kehangatan yang dibumbui oleh kisah ketidakmungkinan tentang kita. Hmmm...
Waktu kian hari berjalan, dan tak seharipun ingatan tentangmu menghilang di pikiranku. Aku dilanda demam sekarang, demam untuk menemuimu walaupun sebentar. Kamu tahu? aku tengah dilanda keram. Keram pada perasaanku yang lagi-lagi merindu tentangmu. Sudah cukup lama kita hanya berbicara dalam ruang social media. Dan kamu tahu persis, tanpa bisa melihatmu secara nyata adalah hukuman untukku. Ini salah... dan tidak akan menjadi benar ketika dirimu masih menjalin ikatan itu. Dan akan semakin salah ketika aku yang sendiri, mengharapkanmu bisa melepas status sakralmu...
Dalam kegelapan, hanya lilin yang terpijar. Kita berbicara lewat telepon. Dan sapaan rindumu melautkan kerinduanku. Kita sedang merasakan getarannya. Dan selalu bisa melukiskan tawa yang renyah. Tawa kehangatan yang dibumbui oleh kisah ketidakmungkinan tentang kita. Hmmm...
| image by google |
Diruang ini tidak sendiri, ada beberapa yang dalam dunianya sendiri. Sosok itu sibuk dengan teriakan dari lanang yang inginkan kepuasan. Bibirnya mengerucut, matanya mendelik, ada kerutan yang tidak biasanya di dahi yang isyaratkan kekesalan. Kini hidungnya mulai mengencang, jantungpun mulai tidak beraturan. Hmmm… pemandangan yang menyenangkan.. ^^
Tubuhnya kini bersandar disofa, keinginannya berselancar di dunia maya mengacuhkan kondisi yang ada. Dan seperti memperlakukan seorang bocah yang inginkan es krim, smartphone itupun kini dengan sukarela berpindah hati. Untung saja tertolong dengan mahluk gaib ciptaan manusia (read.laptop). Setidaknya otak ini kembali berjumpalitan dengan mengejar abjad-abjad yang bersahabat. Beberapa lagu menjadi suporter dalam menyelami setiap makna dari kalimat yang tertumpahkan disini. Mungkin, bukan kalimat yang menyemai keindahan. Bukan pula susunan kata yang menjadikan mutiara. Tapi dapat menghibur beberapa perasaan yang sempat terkubur.
Keadaanpun menjadi kurang menyenangkan. Ada yang menunggunya, dengan seporsi makan siang yang amat sangat terlambat. Setengah hati menemani, bisik-bisik ungkapan ketidaksukaan mulai berlarian ke otak kiri. Aneh tapi nyata, hanya sekedar obrolan-obrolan ringan padahal. Mengemas basi malahan. Tapi rasa itu tetap rasa. Yang tidak pernah diniatkan untuk berperan seperti apa. “Heiii… sabar dan biasa sajaaaa…” teriak hatinya yang kini mulai merasa tidak nyaman!
Senyum tetap manis seperti gerimis. Dan ketenangan mulai belajar menaiki tangga untuk mencari kebaikan pikiran. Dengan sedikit pasti membukit. Perlahan pepatah itu sudah menjangkit. Well, inilah hasil dari keadaan sekarang. Bisa diam, bisa tidak diam. Bisa santai dan bisa rusuh. Semuanya akan baik-baik saja, semuanya akan seperti semula. Ini hanya permulaan dari rasa-rasa yang mulai tercemar samar. Ada waktu yang akan meneduhkan. Hanya menunggu dengan menyebar sabar. ^^
Sebelum terlewat, dijalanan gelap dengan paduan suara-suara alam yang mulai bertabrakan, muncul kalimat klarifikasi. Dan menghargai bukan dengan mengamini. That’s it! Kita sepaham bukan?? semoga saja…
Aamiinn… ^^
Kali ini kamu singgah dengan merusuhkan perasaan, mengeraskan yang sebelumnya lembut. Jauh dan berat. Terpikir, ketika yang hanya titik saja tidak mendinginkan suasana, apa jadinya jika menjadi sebuah lingkaran? Dan ketika rasa sayang yang kita punya tanpa batas, namun hanya sekedar untuknya, bisakah memaksakan? Tidak ada yang menjadikannya seperti semula. Dan kini, sepertinya irisan-irisan kecil itu tertoreh. Kecewanya menjauhkan dari rasa sebenarnya. Kata maaf pun seperti sudah tidak di indahkan. Hhhhh..
Dear Hati...
Mengingat dan merindunya hari ini, adalah suatu hal yang menyiksa. Berulangkali deras ini jatuh dari kedua mata yang mengharapkan kedatangannya. Mungkin ini menjadi akhir ketika sebelumnya ada kisah yang semakin membuat rasa ini tak ingin pergi darinya..
Dan sepertinya, akan kembali kehilangan...
Dear Hati...
Andai saja, isi kepala ini hanya tentang satu hal. Tapi Allah memberi banyak hal, terkadang merasa sendiri, merasa ingin berlari, pergi jauh dari semua kehidupan yang selalu menyudutkan, selalu meminta pengertian... Allah.. skenario apa yang akan melautkan bahagia dihati ini? Keadaannya seperti tengah terjun dari ketinggian yang mendorong untuk tidak kembali lagii..
Andai saja, isi kepala ini hanya tentang satu hal. Tapi Allah memberi banyak hal, terkadang merasa sendiri, merasa ingin berlari, pergi jauh dari semua kehidupan yang selalu menyudutkan, selalu meminta pengertian... Allah.. skenario apa yang akan melautkan bahagia dihati ini? Keadaannya seperti tengah terjun dari ketinggian yang mendorong untuk tidak kembali lagii..
Serumit apalagi yang bisa dilewati? Si fakir dan lemah ini hanya berpura-pura kuat. Berpura-pura biasa saja. Sakitttt.. sekarang sakittt... Bathin tengah bergemuruh seperti raungan seorang ibu disana yang menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Kini semuanya tengah sibuk dalam perasaan masing-masing, perencanaan, keinginan dan lain hal.
Dear Hati...
Setiap sebab ada akibat. Namun apa setiap semua akibat harus menanggungnya sendiri? Jujur lelah dan jenuh, marah dan gamang menjadi teman setia sekarang. Andai saja, kebaikan dan kesabaran ini sudah punah. Mungkin akan menjadi sosok yang tak akan pernah dikenali lagi. Terpikir untuk menjadi orang lain, bisa membenci, bisa cuek, bisa apatis, bisa menggenggam ego. Kita terlahir tanpa tahu apa tujuan dari Tuhan. Tapi menjadi bagian yang membentuk keadaan menjadi lebih baik adalah setiap harapan dan do'a yang selalu terpinta.
Allah.. saat ini ikhlas kalau harus kembali kehilangan...
Tapi mohon, jauhkan hati ini dari setiap prasangka buruk apalagi harus menjadi keras hati yang dapat menyakiti..
Aamminnn...
image by google
11.30 Wib
Waktu yang kamu tentukan hari ini untuk kita bertemu, harus selesai sekarang! Pintamu lewat whatsapp, dan akupun memberikan emoticon tanda setuju.
Gaduh dan rusuh perasaanku kini, sengaja kusibukkan diri dengan beberapa kegiatan. Hanya untuk coba melenyapkan perasaan yang entah disebut apa. Mengingatmu adalah cahaya, mengingatmu adalah rindu, mengingatmu adalah candu. Hhhhh.. haruskah berakhir sekarang? Fiuhh..
Jarum jam diangka 11.18 Wib
12 menit lagi wajahmu akan menari bebas dihatiku, bahkan mungkin liar mencakar-cakar direlung yang terdalam. Hukuman apa ini Tuhan? Lirih ku mengeluh. Detak jarum jam saat ini tak ingin kudengar, semakin gila rasanya harus menemuimu dan akhirnya meninggalkanmu. Hhhh.. lagi-lagi menghela nafas.
Ternyata kamu terlambat, cukup lama aku menunggu di depan minimart. Kesabaranku semakin diuji rasanya. Cuaca panas menambah kegelisahan yang tak sedetikpun mau hilang. Tapi aku menunggu, akan terus menunggu sampai akhirnya kita sepakat meninggalkan jejak kebersamaan kita hari ini. Ini untuk terakhir kalinya. Tidak akan ada waktu lain yang dapat kita habiskan bersama lagi seperti sebelumnya. Aku mulai mengutuk waktu ketika rupamu belum didepan mataku.
Baru saja aku selesai membayar sebotol mineral, dan kamu tepat dihadapanku sekarang. Hanya tersenyum simpul, dan akupun sama. Hambarrr... sangat hambarr... Segera kuraih kunci motor dan tanpa basa basi kamupun duduk dibelakangku. Hanya sepatah kata, kita sepakati menuju ke sebuah tempat untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Tak ada obrolan, memeluk pinggangku pun sepertinya kamu enggan. Sudahlah, kita sama-sama menahan untuk tidak bersikap biasanya, aku mengerti dan ketidaksukaanku kuteriakan dalam hati.
Lentera...
Sungguh bathinku tersiksa bersikap seolah kita tidak ada apa-apa. Kamu dihadapanku sekarang dengan segelas jus yang menjadi perhatianmu. Masih dalam situasi melerai isi hati, kita lama terdiam. yang terdengar hanya kalimat basi. Menatapmu seperti ini melarutkan aku dalam ketidakberayaan untuk meninggalkanmu, melupakanmu sampai akhirnya kita tidak akan pernah bertemu. Sampai akhirnya.. Kau bertanya tentang mauku, tentang hal yang ingin disampaikan kepadamu. Aku tahu ada kekosongan dalam pertanyaanmu, kesepian yang teramat dalam. Kehampaan yang mengusik jiwamu sekarang. Seperti yang kau katakan sebelumnya.. kamu membenciku, membenciku dalam ketikberdayaanmu...
Secangkir kopi menjadi penenang saat ini, ampasnya seperti menggodaku untuk menyentuh dan menuliskan namamu. Wajahmu masih menunduk, sedikit saja kamu luangkan matamu untuk menatap mataku, hhh.. Karena masih ada ikatan itu, aku memilih diam dan menghukum diriku sendiri dengan menjahit rasa benci yang kudapatkan kini. Kalau boleh aku mengukur dengan menakar timbangan? Tidak 1 ons pun perasaanku berkurang. Justru semakin bertambah kg nya.
Langit sore menyeringai, awanpun menyembul dengan rupa yang beraneka. Sebentar lagi gelap, karena siluet jingga sudah mulai nampak.. Wajahmu menengadah pada langit. Dan aku cemburu, tidak seperti itu kau menatapku tadi. Hanya barisan kalimat yang kesumat yang mengiris dinding hati ini. Namun, kita sepakat untuk tidak saling mendekat. Hhhhh... Waktunya berpisah dan kembali gelisah. Aku masih sangat menginginkanmu, dan akan selalu menjagamu walau dari jauh. Lentera.. Dalam ketidaksukaan hari ini, kita bahagia Bukan? Jangan sebut ini akhir, tapi adalah awal untuk mengusir segala kecamuk yang kian membuat kita remuk. Biarkan Niel, abaikan saja Dia, dan tetaplah bersamaku.. Seperti Dia yang memilih bersamanya disaat kamu menunggu...
Jangan sebut ini akhir, aku mengingkari keinginanku sendiri. Sungguh, jangan katakan pertemuan ini yang terakhir, karena kita masih sama-sama inginkan bersama. Genggaman tanganmu, isyaratkan masih terasa berat untuk aku pergi dari hidupmu...
Percayalah, akan ada waktu benahi semua ini...
To be continued....
Ternyata kamu terlambat, cukup lama aku menunggu di depan minimart. Kesabaranku semakin diuji rasanya. Cuaca panas menambah kegelisahan yang tak sedetikpun mau hilang. Tapi aku menunggu, akan terus menunggu sampai akhirnya kita sepakat meninggalkan jejak kebersamaan kita hari ini. Ini untuk terakhir kalinya. Tidak akan ada waktu lain yang dapat kita habiskan bersama lagi seperti sebelumnya. Aku mulai mengutuk waktu ketika rupamu belum didepan mataku.
Baru saja aku selesai membayar sebotol mineral, dan kamu tepat dihadapanku sekarang. Hanya tersenyum simpul, dan akupun sama. Hambarrr... sangat hambarr... Segera kuraih kunci motor dan tanpa basa basi kamupun duduk dibelakangku. Hanya sepatah kata, kita sepakati menuju ke sebuah tempat untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Tak ada obrolan, memeluk pinggangku pun sepertinya kamu enggan. Sudahlah, kita sama-sama menahan untuk tidak bersikap biasanya, aku mengerti dan ketidaksukaanku kuteriakan dalam hati.
Lentera...
Sungguh bathinku tersiksa bersikap seolah kita tidak ada apa-apa. Kamu dihadapanku sekarang dengan segelas jus yang menjadi perhatianmu. Masih dalam situasi melerai isi hati, kita lama terdiam. yang terdengar hanya kalimat basi. Menatapmu seperti ini melarutkan aku dalam ketidakberayaan untuk meninggalkanmu, melupakanmu sampai akhirnya kita tidak akan pernah bertemu. Sampai akhirnya.. Kau bertanya tentang mauku, tentang hal yang ingin disampaikan kepadamu. Aku tahu ada kekosongan dalam pertanyaanmu, kesepian yang teramat dalam. Kehampaan yang mengusik jiwamu sekarang. Seperti yang kau katakan sebelumnya.. kamu membenciku, membenciku dalam ketikberdayaanmu...
Secangkir kopi menjadi penenang saat ini, ampasnya seperti menggodaku untuk menyentuh dan menuliskan namamu. Wajahmu masih menunduk, sedikit saja kamu luangkan matamu untuk menatap mataku, hhh.. Karena masih ada ikatan itu, aku memilih diam dan menghukum diriku sendiri dengan menjahit rasa benci yang kudapatkan kini. Kalau boleh aku mengukur dengan menakar timbangan? Tidak 1 ons pun perasaanku berkurang. Justru semakin bertambah kg nya.
Langit sore menyeringai, awanpun menyembul dengan rupa yang beraneka. Sebentar lagi gelap, karena siluet jingga sudah mulai nampak.. Wajahmu menengadah pada langit. Dan aku cemburu, tidak seperti itu kau menatapku tadi. Hanya barisan kalimat yang kesumat yang mengiris dinding hati ini. Namun, kita sepakat untuk tidak saling mendekat. Hhhhh... Waktunya berpisah dan kembali gelisah. Aku masih sangat menginginkanmu, dan akan selalu menjagamu walau dari jauh. Lentera.. Dalam ketidaksukaan hari ini, kita bahagia Bukan? Jangan sebut ini akhir, tapi adalah awal untuk mengusir segala kecamuk yang kian membuat kita remuk. Biarkan Niel, abaikan saja Dia, dan tetaplah bersamaku.. Seperti Dia yang memilih bersamanya disaat kamu menunggu...
Jangan sebut ini akhir, aku mengingkari keinginanku sendiri. Sungguh, jangan katakan pertemuan ini yang terakhir, karena kita masih sama-sama inginkan bersama. Genggaman tanganmu, isyaratkan masih terasa berat untuk aku pergi dari hidupmu...
Percayalah, akan ada waktu benahi semua ini...
To be continued....
| image from google |
Kamu yang gila, kamu yang egois namun menutupinya dengan senyuman manis. Bagaimanapun akan selalu ada rasa saling menghargai ketika kamu dan aku sedang menjemput mimpi.
Langit mengelap terang, mengubah wajah birunya dengan mendung yang kelam. Sore itu kita baik-baik saja, bahkan tawa kita dibawa angin seiring perjalanan. Perut bumi seolah menjadi saksi bahwa kita sahabat sejati. Saling menjaga dan memahami. Sempat kita melepas kepenatan dalam saung yang menyajikan dua piring pecel ayam.
Heii.. kamu, lelaki egois dan gila. Menyudutkan ruh ini dalam barisan kaktus. Tak pelak jalanan yang terpijak akan sangat menyakitkan sekarang. Kegilaanmu yang mengirim bunga mawar merah. Berduri tajam dan menghitam. Lekat aku sekarat, mengerat seperti tikus yang rakus. Jiwamu terganggu dan mengganggu jiwaku. riuh suara-suara itu memusingkan, mengendus ketenanganku menjadi sarang laba-laba. Tak ayal peduliku sudah buyar, aku menjadi apatis karenamu, menjadi acuh denganmu. Kegilaanmu menjadi gilaku sekarang.
Kata benci itu masih terlihat apik dimataku. Penuh amarah dan aku gerah. Gelagatmu yang terlihat peduli hanya fatamorgana, kau buang semua kenangan kebersamaan yang mengunggah setiap hati untuk menjalin kisah sejati. Silaturahim itu kau lebur menjadi buih bubur. Dimana kamu yang pernah buatku kagum? Hhhh.. akar pohonnya sudah kamu kikis habis. Tak ada yang tumbuh sekarang, hanya sehelai harapan dalam bimbang yang berkepanjangan..
Kamu dikuasai cinta yang salah...
Dan aku, merasa bersalah...
Aku bukan kaktus yang ketika gersang mengeluarkan duri...
Dalam diamku pernah kuteriakan namamu, sekedar melepas belenggu. Sekarang, seperti serpihan kaca gelas yang terserak. Tak bisa di tapak, kecuali setelah sapu itu mengusirnya. Berulang istighfar, mengusir bersalah yang kian terpapar. Apa yang kini harus kulakukan? Membuka ruang baru, lalu menjadi sepertimu?? Menutupnya dengan ketidakberdayaan tentang perasaan?? Hatimu putih, tapi kini menjadi abu. Dan aku menggelapkannya, menghitamkannya. Seperti maumu.
Aku bukan kaktus yang ketika hujan menjadi diam....
Heii.. kamu, lelaki egois dan gila. Menyudutkan ruh ini dalam barisan kaktus. Tak pelak jalanan yang terpijak akan sangat menyakitkan sekarang. Kegilaanmu yang mengirim bunga mawar merah. Berduri tajam dan menghitam. Lekat aku sekarat, mengerat seperti tikus yang rakus. Jiwamu terganggu dan mengganggu jiwaku. riuh suara-suara itu memusingkan, mengendus ketenanganku menjadi sarang laba-laba. Tak ayal peduliku sudah buyar, aku menjadi apatis karenamu, menjadi acuh denganmu. Kegilaanmu menjadi gilaku sekarang.
Kata benci itu masih terlihat apik dimataku. Penuh amarah dan aku gerah. Gelagatmu yang terlihat peduli hanya fatamorgana, kau buang semua kenangan kebersamaan yang mengunggah setiap hati untuk menjalin kisah sejati. Silaturahim itu kau lebur menjadi buih bubur. Dimana kamu yang pernah buatku kagum? Hhhh.. akar pohonnya sudah kamu kikis habis. Tak ada yang tumbuh sekarang, hanya sehelai harapan dalam bimbang yang berkepanjangan..
Kamu dikuasai cinta yang salah...
Dan aku, merasa bersalah...
Aku bukan kaktus yang ketika gersang mengeluarkan duri...
Dalam diamku pernah kuteriakan namamu, sekedar melepas belenggu. Sekarang, seperti serpihan kaca gelas yang terserak. Tak bisa di tapak, kecuali setelah sapu itu mengusirnya. Berulang istighfar, mengusir bersalah yang kian terpapar. Apa yang kini harus kulakukan? Membuka ruang baru, lalu menjadi sepertimu?? Menutupnya dengan ketidakberdayaan tentang perasaan?? Hatimu putih, tapi kini menjadi abu. Dan aku menggelapkannya, menghitamkannya. Seperti maumu.
Aku bukan kaktus yang ketika hujan menjadi diam....









